Last Night “Oktober 2012”

Masih teringat dan terasa sangat jelas, saat terakhir kali aku melihatmu langsung tepat di depanku. Kala itu beberapa jam sebelum keberangkatan mu ke tempat dimana kau akan menjalani ikatan dinasmu.

Malam itu kita habiskan waktu bersama di halaman belakang rumahku, bercanda tertawa, menikmati hembusan angin malam sambil sesekali membicarakan tentang masa depan kita. Hingga kamu berkata padaku, “sayang, aku ga akan pulang sampai kamu sendiri yang langsung menyuruh ku pulang. Kalaupun aku kamu tahan disini sampai jam 1 pagi, akan kuturuti.”

Aku terdiam, “trus kalau kamu aku tahan sampai jam 1 pagi berarti kamu gak tidur dong? Padahal besok kan kamu harus berangkat subuh ke bandara,”

“Iya, kalau memang kamu baru ikhlas’in untuk aku pulang jam segitu yaudah gak apa-apa.  Ga masalah kalo emang aku ga bisa tidur dulu, yang penting hati kamu udah tenang dan ikhlas untuk aku pulang dan besok pagi nya berangkat ke Kalimantan karena kalau aku udah pulang, kita gak akan ketemu lagi sampe aku cuti tahun depan.” katamu sambil tersenyum. Kurasakan genggaman mu semakin erat di tanganku seakan kamu yang tak rela jauh dariku.

Kulirik jam tangan yang melingkar di tangan nya, jarum jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.

“Ya Tuhan, benarkah besok dia akan berangkat? Benarkah malam ini akan menjadi malam terakhirku menatap wajah nya yang mungkin baru akan kulihat lagi 14 bulan mendatang?” bisik ku dalam hati sambil memandang dalam-dalam wajah nya.

“Hey, kok ngelamun? Jangan sedih dong,” ujar nya sambil tersenyum dan mengusap lembut kepalaku, “aku pergi kan untuk kerja, untuk kamu juga biar kita bisa cepet hidup sama-sama.”

Aku tertawa kecil, “ih sok tau, siapa juga yang ngelamun? Aku kan tadi mandangin muka kamu yang ganteng,” jawabku dan  kami pun tertawa berdua.

Apa yang kurasakan bersamanya berbeda dengan kisah-kisah sebelumnya. Dia yang selalu bisa membuatku tertawa,dia yang selalu membuat hatiku tenang dan dia yang selalu membuatku nyaman baik saat dia ada disampingku maupun saat jauh dariku.

Kami bisa diandaikan seperti api dan air. Saat aku marah, dia lah yang meredam amarahku. Begitupun sebaliknya, jika dia yang marah maka aku lah yang meredam amarah nya. Begitu pula sifat kami yang bertolak belakang, malah itu yang menjadikan hubungan kami semakin kuat. Aku yang pengalah dan penyabar, sedangkan dia yang keras kepala. Disaat sifat keras kepala nya muncul, aku lah yang dengan sabar membujuk nya dan pada akhir nya dia pun akan luluh. Namun disatu sisi, aku dengan sifat ku yang ceroboh dan cuek sedangkan dia yang teliti dan telaten. Dialah yang selalu sabar mengingatkan ku akan hal-hal kecil yang mungkin kulupakan karena sifat cuek ku itu dan kalau terjadi kesalahanku karena sifat ceroboh ku dialah yang selalu dengan sabar menasehatiku walaupun terkadang aku mengulang kesalahan yang sama berulang kali.

Ya, aku begitu menyayangi lelaki yang ada dihadapanku saat ini. Itu juga lah yang kurasakan selama hubungan kami 1,5 tahun lebih ini, dia juga sangat menyayangiku. Bagiku dia bukan hanya sekedar pacar, disatu sisi dia bisa jadi sahabat, kakak laki-laki dan juga ayahku. Bahkan terkadang sifat manja nya bisa membuat ku merasa dia itu adik laki-laki ku.

“Kamu baik-baik ya disini kalo aku udah berangkat. Jangan sedih, kamu harus makin rajin belajar n tetep fokus biar cepet selesai kuliah nya. Kalo mama papa ga bisa jemput, jangan suka pulang larut malem, kan gak ada aku yang bisa nganter kamu pulang. Trus jangan nakal juga disini ya sayang,” ujarmu sambil mengusap kepalaku.

Aku tersenyum simpul, “siap bos! Perintah mu akan kujalankan dan hatimu akan kujaga juga baik-baik disini,”

Kami pun kembali menikmati langit malam. Aku duduk berhadapan dengan nya,  saling menatap, tangan kami saling menggenggam erat sambil sesekali kami tertawa karena kami saling mengingat kisah-kisah lucu diantara kami selama ini.

Kulirik kembali jam tangan yang melingkar di tangan nya, “udah jam 10.40 malam,” pikirku. Kutarik nafas dalam-dalam dan kumantapkan hati untuk menyuruh nya pulang.
Kuelus pipinya dan kutahan tanganku di pipi nya, “sayang, pulang gih ini udah jam setengah sebelas lebih, kan kamu harus berangkat besok biar bisa istirahat dulu.” Kulemparkan senyum ku pada nya, dan kulihat ia hanya menatap mataku tak percaya.

“Beneran sayang aku boleh pulang sekarang? Kalo aku udah pulang besok kita gak ketemu lagi loh,”

Dengan mantap kuanggukan kepalaku, “iya sayang gak apa-apa. Kan semakin cepet kamu pergi semakin cepet juga kamu pulang,”

Senyum terharu menghiasi wajah manis nya, “Makasih ya sayang kamu udah ngertiin aku. Aku janji aku bakal pulang buat kamu n secepatnya bawa kamu ikut sama aku,”

“Iya sayang, aku juga janji bakal tungguin kamu sampe kamu dateng lagi buat aku,” ujarku sambil mengelus pipinya untuk mempertegas janjiku, “Yaudah ayo aku anter kamu ke depan,”

Kami pun beranjak ke depan dan sebelum pulang, dia berpamitan terlebih dahulu ke mama dan adek-adek ku. Ia hanya mengirim pesan singkat untuk papa ku karena kebetulan papa ku juga lagi bertugas di Sulawesi.

“Hati-hati ya sayang, jangan ngebut nyetir mobil nya ini udah malem. Nanti kalo udah sampe rumah abang kabarin ya,” kataku sambil menatap lekat-lekat wajah nya yang udah berada di dalam mobil.

“Iya sayang, aku pulang dulu ya. Aku sayang kamu,”

Pelan-pelan mobil nya pun melaju meninggalkan rumahku. Aku hanya tersenyum memandangi mobil nya yang semakin jauh.

“Astaga!!!” aku tersentak mengingat kemeja yang udah aku siapkan untuk nya dan akan kuberikan sebagai kado wisuda masih tertinggal di mobilku dan bahkan aku belum membungkus nya! Dengan cepat aku langsung masuk ke dalam rumah dan mengirim pesan singkat, yang menyuruhnya untuk kembali lagi ke rumah. Karena takut dia keburu jauh, maka kupencet tombol memanggil di handphone ku.
“Sayang, cepetan ya balik ke rumah sekarang! Sekarang ya sayang, cepet!”ujarku terburu-buru di telepon dan langsung kumatikan telepon tanpa menunggu nya bicara.

Aku langsung menyambar kunci mobil dan segera keluar untuk mengambil kemeja biru yang kusiapkan untuk nya. Saat aku merapikan goody bag yang untuk membungkus kemeja nya, kulihat dengan cepat mobil nya melaju dan berhenti di depan rumahku. Ia turun dari bangku kemudi dengan tergesa-gesa dan wajah nya terlihat bingung, kaget sekaligus khawatir.

“Lucu deh muka nya,” batinku. Ia memang tidak melihat ku karena aku berdiri di sebelah kanan mobil ku yang terparkir vertikal sedangkan dia berjalan melalui sisi satu nya lagi.

“Buncit,” panggilku. Ya, emang itulah panggilan sayangku untuknya. Ia berhenti sebentar dan memandang ke arahku, melalui kaca mobilku.

“Buncit sini,” dan ia pun segera menghampiriku.

Aku menyodorkan goody bag yang ada di tangan ku, “Ini kado wisuda buat kamu, nanti dipake yah. Maaf ya sayang, aku lupa ngebungkus nya,” ujarku malu-malu sambil tersenyum lebar.

Kulihat perubahan di air wajahnya. Yang tadi mukanya tegang sekaligus khawatir, kini menjadi penuh senyum kelegaan sekaligus terharu.

Ia langsung mengelus kepalaku, mencium pipi ku kemudian menarik ku ke dalam pelukan nya, “Makasih banyak ya sayang buat kado nya. Kemeja ini bakal aku pake disana ya,”

“Iya sayang, kemeja ini harus kamu pake. Awas kalo gak dipake yah!” kupererat pelukan ku di tubuh nya dan kuhirup dalam-dalam aroma tubuh nya yang sangat kusukai.

“Sayang, waktu turun dari mobil tadi kok muka kamu keliatan tegang gitu?” tanyaku.

Sambil tertawa ia melepas pelukan nya, “Aku kira tadi kamu nangis-nangis di rumah,” jawab nya sambil mencubit gemas hidungku.

“Hahaha, engga lah sayang kan aku udah janji sama kamu aku gak akan sedih dan juga gak akan nangis. Ya seenggak nya gak nangis di depan mu, gak tau kalo nanti di kamar,” candaku.

“Heh! Gak boleh nangis kamu! Kemaren aku tinggal magang ke Riau 6 bulan aja kamu kuat, masa ini setahun doang kamu gak kuat,” katanya lagi.

Aku hanya tertawa, “bercanda sayang, ya pasti aku kuatlah! Masa iya sama gini doang kalah, toh gak ada bedanya sama magang kemaren,”

“Nah gitu dong, itu baru namanya pacarku,”

“Iya sayang, yaudah kamu pulang gih ntar keburu aku tahan kamu lagi disini”

Diusapnya kepalaku dan dicium keningku, “baik-baik disini ya sayang,”

Aku hanya tersenyum sambil memandangi punggung nya yang berbalik kearah mobilnya.

“Daa daaaah hati-hati sayang,” kupandangi mobilnya yang semakin hilang dari pandanganku. Aku sadar mungkin aku baru bisa menjumpai nya secara langsung berbulan-bulan kemudian namun aku yakin ia akan selalu ada untuk ku dan aku juga akan selalu menjaga hatiku untuknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s